Surat dari Calon Pasien

Terdiam dalam sunyi. Kutatap tumpukan hand-out materi kuliah yang mau tidak mau harus kubaca malam ini. “Kenapa baru malam ini?!” tanya hati kecilku sedikit marah. “Ya, mau bagaimana lagi? Ah, jangan protes terus!” jawab hatiku entah dari sisi yang mana. Ramai hatiku berperang dan otakku kelu, hanya sanggup menatap dari jauh percakapan sengit hati-hatiku.

Sebuah benda asing bernama penyesalan mampir mengetuk pintu hatiku. Ya, penyesalan karena salah memilih jurusan. Buat apa dia datang? Tak lain dan tak bukan untuk memancing amarah agar keluar dari tempat semedinya. Namun, otakku yang sedari tadi kelu, bangkit bak disambar petir dengan gaya otoritasnya, memerintahkan tangan membuka sesuatu yang tersentuh oleh mata, yaitu lembar sebuah surat.

Selamat pagi calon dokterku. Mengapa engkau terlihat lesu? Bagaimana jika aku memanggilmu caldokku? Tidak keberatan, kan? Hmm, aku dengar pelajarannya berat, ya? Dan banyak juga, ya? Dan apa lagi, ya? Maafkan aku caldokku, karena engkau harus belajar keras demi aku, calon pasienmu.

Tapi wahai calon dokterku, tahukah engkau? Menjadi dokter adalah pilihan yang hebat, karena ia begitu mulia dan sangat berharga di mataku. Segala talenta terpatri dalam jiwanya, mulai dari komunikasinya yang menghangatkan jiwa, keahlian seorang detektif dalam diagnosisnya, jiwa seorang guru yang memberi pengertian pada pasiennya, kemampuan persuasifnya, kesabaran, kegigihan, keuletan, tanggung jawab yang diembannya, sifat rela berkorbannya, keikhlasannya, dan masih banyak lagi yang tak bisa kusebutkan.

Terima kasih calon dokterku, karena saat ini engkau belajar, memahami, mencerna, dan mencari segala sesuatu di kedokteran hanya untukku, calon pasienmu. Waktumu dalam belajar, berorganisasi membentuk karakter, berlatih mengasah skill, semuanya engkau lakukan demi aku kelak, calon pasienmu. Tenagamu engkau sumbangkan, lelahmu dalam belajar selalu berusaha engkau tekan, kantukmu engkau lawan, dan semua engkau lakukan hanya untuk memberikan yang terbaik bagiku, calon pasienmu.

Sungguh caldokku, aku tidak tahu harus membalas apa. Sungguh mulianya dirimu dan kuyakin engkau akan berkata, “tidak, tidak usah dibalas. Saya hanya manusia biasa. Sang Pencipta yang berkuasa.” Aku disini selalu berharap engkaulah yang dipilih Sang Pencipta untuk merawatku kelak. Layaknya manusia, ketika aku sakit, ketika aku membutuhkan semangat untuk hidup, dan ketika aku butuh akan perhatian. Maka dari itu, tersenyumlah. Aku senang melihatmu tersenyum, karena dengan senyummu saja, sakit yang kurasa bisa sirna.

Calon dokterku, sudah terlalu banyak dokter yang tidak mengerti tugasnya, melupakan hatinya, dan tidak mengakui bahwa betapa mulianya ia. Dan karena itu, aku selalu menunggumu karena aku percaya kelak engkau tidak seperti mereka, dan karena aku percaya engkau adalah seorang dokter yang berbeda. Seorang dokter yang akan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Seorang dokter yang selalu berusaha sekuat tenaga demi keceriaan pasiennya, meski Yang Maha Kuasa menggariskan sesuatu yang bernama takdir padanya.

Aku ingin segera memanggilmu dokter, dan bukan caldok lagi. Bukankah engkau juga ingin segera mendengarnya? Namun, aku mengerti pelajaran ini tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Jadi, berjuanglah caldokku. Aku, calon pasien pertamamu, akan selalu menantimu. Aku akan terus memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dapat bertemu denganmu dan mewujudkan impianku untuk menyapamu “dokter” di ruang praktekmu pagi itu.

Calon pasien pertamamu,
Ibu yang selalu merindukanmu

Semangat kolegaku! Banyak orang yang telah menunggu kita sebagai dokter yang profesional. Jangan menyerah! Mari berjuang bersama dan saling mengingatkan bahwa selalu ada kemudahan untuk setiap kesulitan, hanya saja kita butuh kesabaran untuk mencapainya. Jika matahari ibarat kesulitan dan hujan ibarat kesuksesan, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Semangat!

Leave a Reply