Teka-Teki #034 – Misteri Jalanan

Saat itu jam menunjukkan waktu pukul 7 pagi. Namun, ada yang berbeda di Kompleks Pasir Putih ketika pagi itu. Jalanan kompleks yang biasanya sepi itu mengundang orang-orang untuk berhenti di sana. Kerumunan orang berkumpul di pinggir jalan mengelilingi sesuatu. Apa itu? Mayat seorang wanita!

“Cepat panggil polisi!” teriak salah seorang dari mereka.

Tidak lama setelah itu, polisi datang ke Kompleks Pasir Putih. Seorang petugas polisi memeriksa mayat wanita tersebut dan mencari petunjuk sebanyak mungkin. Setelah melakukan penyelidikan, diketahui bahwa korban adalah seorang wanita bernama Ny. S berusia 30 tahun yang tinggal di Kompleks Melati Putih. Penyebab kematian Ny. S adalah pukulan keras di kepala bagian belakang dengan perkiraan waktu kematian pada pukul 01.00-01.15 WIB.

Ternyata rumah korban tidaklah jauh dari Kompleks Pasir Putih, kira-kira butuh waktu 10 menit jika berangkat mengendarai mobil dari rumah korban. Polisi mencoba mencari seorang saksi. Namun, tidak ditemukan seorang pun. Tidak heran karena jalanan Kompleks Pasir Putih selalu sepi, apalagi sewaktu dini hari.

“Ini kasus yang sulit. Tolong panggil detektif BP,” perintah inspektur polisi.

Seorang petugas polisi menelepon detektif BP dan ia akan datang sebentar lagi. Sedikit cerita tentang detektif BP, tidak ada seorang pun yang tahu mengapa ia dipanggil detektif BP. Namun, hal itu tidaklah terlalu penting. Yang penting adalah ia sering membantu polisi mengungkap misteri dari kasus-kasus yang ditangani polisi.

Sepuluh menit berselang, detektif BP telah tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Detektif BP mendengar penjelasan mengenai kasus ini dari inspektur polisi. Setelah itu, ia mengecek tas yang ditemukan di samping korban dan menemukan sebuah kartu nama. Pada kartu nama itu tercantum nomor telepon rumahnya.

BP: “Inspektur, boleh aku pinjam HP (handphone) milikmu?”

Inspektur: “Untuk apa?”

BP: “Aku ingin menelepon rumah korban. Siapa tahu kita bisa dapat petunjuk.”

Inspektur: “Kenapa tidak pakai HP milikmu sendiri?”

BP: “Pulsa saya habis hehe”

Inspektur: “Dasar! Kalau bukan untuk penyelidikan, tidak akan kupinjamkan. Ini!”

BP: “Terima kasih, inspektur.”

Detektif BP segera menelepon ke telepon rumah korban. Telepon detektif BP dijawab oleh seorang laki-laki.

BP:  “Benarkah ini rumah Ny. S?”

??? :  “Benar. Anda siapa?”

BP:  “Saya temannya. Apakah Anda suaminya?”

??? :  “Ya. Saya adalah suami Ny. S”

BP:  “Saya ingin memberitahukan kabar duka. Istri Anda telah meninggal.”

Suami korban:  “Apa? Itu tidak mungkin!”

BP:  “Saya tidak bohong. Datanglah kemari secepatnya.”

Suami korban:  “Baiklah, saya akan segera ke sana.”

Sepuluh menit kemudian. Sebuah mobil berhenti di TKP. Seorang lelaki keluar dari mobil tersebut dan segera menemui polisi. Ya, lelaki itu adalah suami korban.

Suami korban:  “Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan kepada saya!”

BP:  “Anda benar-benar ingin tahu?”

Suami korban:  “Tentu saja. Cepat katakan!”

BP:  “Anda pasti lebih tahu kejadian sebenarnya dibandingkan saya.”

Suami korban:  “Apa maksudmu?”

BP:  “Anda pembunuhnya! Polisi, cepat tangkap dia!”

Setelah melakukan interogasi di kantor polisi, akhirnya suami korban mengakui perbuatannya. Ia telah membunuh istrinya sendiri di rumahnya. Kemudian, ia membawa mayat istrinya ke Kompleks Pasir Putih karena ia tahu jalanan kompleks tersebut sangat sepi. Motifnya adalah suami korban tidak tahan selalu bertengkar dengan istrinya yang tidak suka dengan pekerjaan sang suami karena tidak pernah mendapatkan penghasilan yang memuaskan. Pertengkaran pada malam kejadian membuat amarah sang suami memuncak dan memukul kepala bagian belakang istrinya dengan tongkat kayu. Istrinya terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Sang suami tidak menyangka bahwa pukulannya bisa merenggut nyawa istrinya.

Satu lagi penghargaan diberikan kepada detektif BP. Namun, yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana caranya detektif BP bisa tahu bahwa suami korban adalah pembunuhnya?

Catatan: semua tokoh, watak, dan kejadian di atas hanyalah rekayasa. Jika ada kesamaan dengan kejadian yang asli, saya mohon maaf karena saya tidak berniat untuk menulis ulang kejadian tersebut.

Leave comment